Pemuda ini Hack Akun Twitter Elon Musk, ini Hukumannya

Hacker
remaja yang bernama Graham Ivan Clark membobol akun Twitter milik Bill Gates, Elon
Musk dan sederet tokoh ternama lainnya tahun lalu untuk melakukan penipuan Bitcoin.

Remaja yang tahun lalu berusia 17 tahun ini dijatuhi hukuman
penjara tiga tahun atas aksi terlarangnya tersebut.

Dia mengaku bersalah atas tuduhan penipuan terorganisir. Ia
dijatuhi hukuman sebagai ‘pelaku remaja’ dan akan menjalani 3 tahun hukuman penjara
untuk anak muda diikuti dengan tiga tahun masa percobaan.

Hukuman sebagai remaja memuat Clark memenuhi syarat untuk
menjalankan hukumannya di ‘kamp pelatihan’.

Baca juga: 3 Hacker Korut di Dakwa di AS karena Curi Rp18 Triliun

Selama menjalani hukumannya, dia tidak boleh menggunakan komputer
tanpa izin dan tanpa pengawasan dari pihak yang berwenang.

Selama menunggu sidang di penjara,
sudah dihitung sebagai waktu hukuman yang telah dijalani.

“Graham Clark perlu dimintai
pertanggungjawaban atas kejahatan itu, dan calon penipu lainnya di luar sana
perlu melihat konsekuensinya,” kata jaksa Hillsborough Andrew Warren dalam
keterangan resminya, seperti dikutip Detik dari The Guardian, Rabu 17 Maret
2021.

“Dalam kasus ini, kami dapat
memberikan konsekuensi sambil menyadari bahwa tujuan kami bersama anak mana
pun, jika memungkinkan, adalah membuat mereka belajar tanpa merusak masa depan
mereka,” sambungnya.

Baca juga: Hacker China Mengincar , Microsoft Mesti Waspada

Foto: CNBC

Clark membobol akun Twitter milik
tokoh ternama seperti Elon Musk, Bill Gates, Joe Biden, Barrack Obama, dan
lain-lain pada 15 Juli 2020.

Setelah berhasil membobol
akun-akun tersebut, ia mengirimkan cuitan untuk mempromosikan penipuan Bitcoin.

Penipuan tersebut menjanjikan
semua Bitcoin yang dikirimkan ke alamat yang tersedia akan dilipatgandakan.

Clark berhasil mendapatkan
keuntungan hingga USD 100.000 dalam skema penipuan tersebut, yang kini sudah
dikembalikan.

Baca juga: 5 Hacker Asal Indonesia yang Terkenal, Ada yang Masih SMP

Clark berhasil mengakses
akun-akun tersebut dengan modus menjadi seorang pegawai Twitter setelah meyakinkan pegawai di perusahaan tersebut.

Dia kemudian berhasil mengakses
alat internal Twitter yang kemudian digunakan untuk mengambil alih akun-akun
tersebut.

Tidak lama setelah menjalankan
aksinya, Clark ditahan di rumahnya di Hillsborough, Florida.

Dalam aksinya tersebut, Clark
tidak bekerja sendirian, ia bekerja dengan dua kolaborator, yaitu Nima Fazeli
dari Orlando, AS dan Mason Sheppard dari Inggris yang saat ini masih menjalani
kasus hukumnya.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *