Jangan Upload Sertifikat Vaksin! Ini Bahayanya

Foto: ANTARA FOTO (ADITYA PRADANA PUTRA)

Teknologi.id – Program vaksinasi Covid-19 untuk
masyarakat sudah dimulai sejak bulan lalu. Setelah menerima vaksinasi dosis
pertama atau lengkapnya dua dosis, anggota masyarakat akan menerima sertifikat
sudah divaksinasi.

Namun, beberapa orang nampak cukup
membanggakan diri karena sudah divaksin dengan cara mengupload sertifikat
vaksinasi tersebut. Melihat itu, masyarakat diingatkan untuk tidak mengunggah sertifikat vaksin di media sosial atau membagikannya secara
sembarangan.

Kominfo minta warga yang sudah
divaksin Corona pertama dan kedua, serta sudah mendapatkan sertifikat vaksin
baik dalam bentuk dokumen fisik maupun digital, agar tidak perlu mengunggahnya
di media sosial.

Pemberian tanda bukti sudah mengikuti
program vaksinasi sebenarnya bukan hal yang baru. Seseorang yang sudah
divaksin, vaksin apa pun, akan menerima sertifikat atau yang dikenal sebagai
kartu kuning di Indonesia. Sertifikat vaksin kartu kuning berlaku secara
internasional, berisi jenis vaksin, merek vaksin, tanggal vaksin, dan stempel
dari lembaga kesehatan yang memberikan vaksin.

Baca juga: Cara Daftar Vaksinasi Drive Thru Melalui Aplikasi Halodoc

Johnny G. Plate, Menteri Kominfo RI,
takutkan bahaya privasi data dari unggahan sertifikat vaksin Corona, terlebih
unggahan sertifikat yang tidak sensor kode QR-nya, karena terdapat informasi
pribadi seperti nama, alamat lengkap, tanggal lahir hingga NIK.

Foto: Tirto

Sekilas terlihat data-data tersebut
berdiri sendiri. Namun, sebenarnya ketika dirangkai data tersebut bisa
digunakan untuk mengidentifikasi individu. Misalnya, dengan menggabungkan nama
lengkap, NIK, dan tanggal lahir, seseorang yang memiliki keahlian dalam melacak
data bisa mendapatkan nomor ponsel orang yang dimaksud. Salah satu yang krusial
adalah nomor induk kependudukan atau NIK.

Selain rentan alami pencurian data
pribadi untuk penyalahgunaan oleh oknum tidak bertanggung jawab, rekam medis
seseorang juga bisa bocor. Menurut Johnny, informasi medis seputar riwayat
penyakit dan lain sebagainya bersifat pribadi dan tidak perlu diumbar ke
publik.

Sejauh ini, 181 juta warga Indonesia
jadi target dari proses vaksinasi untuk menciptakan masyarakat yang herd
immunity. Lebih lanjut, proses vaksinasi nantinya akan menyasar masyarakat
rentan di zona merah dengan risiko penularan yang tinggi.

(MIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *