Begini yang Terjadi Jika Terinfeksi 2 Varian COVID Sekaligus

Foto: Kompas

Teknologi.id – Di
negara brasil terdapat para ilmuwan yang baru-baru ini melaporkan ada dua
pasien yang secara bersamaan terinfeksi dua varian SARS-CoV-2 berbeda.

Koinfeksi virus penyebab COVID-19 tampaknya tidak
berpengaruh pada tingkat keparahan penyakit pasien.

Dikutip Detik dari Science Alert hari Senin 08 Maret 2021,
keduanya sembuh tanpa perlu dirawat di rumah sakit.

Meski ini adalah salah satu dari sedikit kasus yang tercatat
dengan SARS-CoV-2, para ilmuwan telah mengamati infeksi dengan beberapa jenis
virus pernapasan lain seperti influenza.

Baca juga: Cara Daftar Vaksinasi Drive Thru Melalui Aplikasi Halodoc

Studi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana
virus ini dapat berinteraksi pada orang yang terinfeksi, dan apakah hal tersebut
akan menghasilkan varian yang baru.

Virus sangat mudah untuk berevolusi, dia terus bermutasi dan
menciptakan varian baru dengan setiap siklus replikasi.

Tekanan selektif dalam tubuh inang, seperti respons imun
kita, juga mendorong adaptasi ini. Sebagian besar mutasi ini tidak akan
berdampak signifikan pada virus.

Meskipun begitu, mutasi memberi keuntungan pada virus,
misalnya dengan meningkatkan kemampuannya untuk mereplikasi atau menghindari
sistem kekebalan.

Baca juga: Skor Terlalu Tinggi, Elon Musk Muda Pernah Disuruh Tes Ulang

Inilah yang menjadi perhatian dan perlu dipantau secara
ketat. Terjadinya mutasi ini tergantung pada mesin replikasi yang rawan
kesalahan yang digunakan virus.

Virus RNA seperti influenza dan hepatitis C, menghasilkan
kesalahan dalam jumlah yang relatif besar setiap kali bereplikasi.

Ini menciptakan “spesies semu” dari populasi
virus. Wujudnya seperti sekumpulan virus, namun masing-masing dengan urutan yang
terkait tetapi tidak identik.

Interaksi dengan sel inang dan sistem kekebalan menentukan
frekuensi relatif dari varian individu. Varian yang hidup berdampingan ini
dapat memengaruhi bagaimana penyakit berkembang atau seberapa baik pengobatan
bekerja.

Dibandingkan dengan virus RNA lainnya, virus Corona memiliki
tingkat mutasi yang lebih rendah. Ini karena mereka dilengkapi dengan mekanisme
proofreading yang dapat memperbaiki beberapa kesalahan yang terjadi selama
replikasi.

Meski demikian, terdapat bukti keragaman genetik virus pada
pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2.

Baca juga: Waspada, Ada 7 Varian Mutasi Corona Baru yang Ditemukan

Deteksi beberapa varian pada seseorang bisa jadi merupakan
hasil dari koinfeksi oleh varian yang berbeda, atau generasi mutasi pada pasien
setelah infeksi awal.

Salah satu cara untuk membedakan kedua skenario ini adalah
dengan membandingkan urutan varian yang beredar dalam populasi dengan yang ada
pada pasien.

Dalam penelitian di Brasil yang disebutkan di atas, varian
yang diidentifikasi sesuai dengan garis keturunan berbeda yang sebelumnya telah
terdeteksi dalam populasi, menyiratkan koinfeksi oleh dua varian.

Bukti sejauh ini tidak menunjukkan bahwa infeksi dengan
lebih dari satu varian menyebabkan penyakit yang lebih parah. Meskipun bisa
terjadi, sangat sedikit kasus koinfeksi yang dilaporkan.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *