Ahli Ungkap Bahwa Perubahan Musim Bisa Pengaruhi Fungsi Otak

Apakah Anda merasakan suasana hati berubah-ubah tiap pergantian musim? Jika ya, ternyata hal tersebut memang ada penjelasannya secara ilmiah.

Baca Juga: Alasan Mengapa Manusia di Bumi Sangat Terobsesi oleh Mars

Baru-baru ini, sebuah kelompok penelitian di Finlandia menemukan bahwa musim bisa mempengaruhi fungsi otak. Kelompok peneliti di Turku Positron Emission Tomography (PET) Center menunjukkan bahwa durasi siang hari dapat mempengaruhi reseptor opioid, yang nantinya mengatur suasana hati individu. 

Para peneliti menemukan bahwa tiap musim berdampak pada emosi dan kehidupan sosial. Emosi negatif diyakini lebih tenang pada musim panas. Di sisi lain, tingkat gangguan afektif musiman memuncak selama bulan-bulan musim dingin yang lebih gelap.

“Opioid mengatur suasana hati dan kemampuan bersosialisasi di otak,” tulis penelitian itu sebagaimana dilansir dari News-Medical pada Kamis, (25/2).

Di Turku PET Center, para peneliti membandingkan lama durasi siang hari dan pengaruhnya terhadap reseptor opioid pada manusia dan tikus. Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati jumlah reseptor opioid yang ada saat otak dicitrakan.

Terlihat bahwa perubahan yang paling menonjol terjadi di wilayah otak yang mengontrol emosi dan kemampuan bersosialisasi. “Perubahan pada reseptor opioid yang disebabkan oleh variasi jumlah cahaya matahari bisa menjadi faktor penting dalam gangguan afektif musiman,” tutur Lihua Sun, salah satu peneliti di Turku PET Center.

Agar perubahan fungsi otak yang terjadi tidak terlihat bias oleh faktor lain, para peneliti melakukan pengamatan serupa pada tikus. Mereka mengukur reseptor opioid pada tikus yang dipelihara dalam kondisi standar, di mana hanya lama durasi siang hari yang diubah. Hasilnya, perubahan fungsi otak pada tikus mirip dengan yang diamati pada manusia.

“Berdasarkan hasil penelitian, durasi siang hari merupakan faktor yang sangat penting dalam variasi reseptor opioid musiman. Hasil ini membantu kita memahami mekanisme otak di balik gangguan afektif musiman,” kata Profesor Lauri Nummenmaa dari Turku PET Center.

Penelitian ini dilakukan PET terhadap 204 relawan yang berperan sebagai subjek. Sejumlah dosis kecil pelacak radioaktif yang akan berikatan pada reseptor opioid otak disuntikkan ke dalam sirkulasi darah subjek. Selanjutnya,  pemindai PET akan mengukur kerusakan pelacak. 

Studi ini didasarkan pada database AIVO yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Universitas Turku dan Turku PET Center.

Baca Juga: Siswi MTsN 5 Sragen Ciptakan Teknologi Pencegah COVID-19

Database tersebut berisi pindaian otak molekuler in vivo untuk analisis ekstensif. Selanjutnya, jumlah reseptor opioid dipelajari dengan pencitraan PET tikus. Penelitian pada hewan dilakukan di Laboratorium Hewan Pusat, Universitas Turku.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *