3 Hacker Korut di Dakwa di AS karena Curi Rp18 Triliun

Foto: AVG

Teknologi.id – Tiga
hacker asal Korea Utara (Korut) yaitu Jon Chang Hyok (31 tahun), Kim Il (27
tahun), dan Park Jin Hyok (36 tahun) didakwa di Amerika Serikat karena mencuri
lebih dari USD 1,3 miliar atau sekitar Rp18 triliun dalam bentuk uang dan mata
uang kripto lewat aksi peretasannya.

Korban peretasan tiga hacker ini bermacam-macam, mulai dari
perusahaan, bank, sampai studio film di Hollywood, seperti yang dikatakan oleh
Kementerian Hukum Amerika Serikat (AS).

Ketiganya didakwa mencuri uang lewat aksi peretasan sebagai
sampingan dari pekerjaan utama mereka, yaitu bekerja di intelijen militer
Korut, demikian dikutip dari detikINET hari Kamis 18 Februari 2021.

Baca juga: Syarat Jadi Karyawan Elon musk, Tak Perlu Pendidikan Tinggi!

Kementerian Hukum AS menyebut ketiga hacker itu bertanggung
jawab atas tindakan aksi kriminal dan peretasan yang mereka lakukan.

Seperti serangan terhadap Sony Pictures Entertainment, yang
dilakukan sebagai balasan atas perilisan film ‘The Interview’, yang
menceritakan kisah pembunuhan pemimpin Korea Utara.

Mereka juga diduga meretas sejumlah pegawai dari AMC
Theatres dan jaringan komputer Mammoth Screen, sebuah perusahaan film asal
Inggris, karena memproduksi sebuah serial drama tentang Korut.

Baca juga: Pengumuman Warga Medsos, Polisi Virtual RI Siap Berpatroli!

Serangan ransomware yang dinamakan WannaCry 2.0 juga diduga dibuat
oleh ketiga hacker tersebut. Selain itu ada juga peretasan terhadap sejumlah
bank.

Bank tersebut tersebar di Asia Tenggara, Asia Selatan,
Meksiko, dan Afrika, memanfaatkan protokol SWIFT untuk mencuri uang.

Sejumlah malware yang beredar antara Maret 2018 sampai
September 2020 untuk menyerang pengguna mata uang kripto pun disebut sebagai
hasil karya mereka.

Baca juga: Sering Diperbincangkan, Ada Apa Aja sih di Silicon Valley?

Jumlah total uang yang mereka curi tidak terlalu jelas,
karena transaksinya bisa disetop dan dikembalikan dalam beberapa kasus
tertentu.

“Bekerja untuk Korea Utara, menggunakan keyboard dan
bukan senjata, mencuri dompet digital untuk mata uang kripto dan bukan uang
tunai, adalah perampok bank di abad ke-21,” ujar Asisten Jaksa Agung
Amerika Serikat John Demers.

Menurut FBI, ketiga hacker tersebut saat ini berada di Korea Utara, meski sebelumnya diduga pernah ditempatkan di sejumlah negara seperti
China dan Rusia.

(fpk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *