Facebook Lenyapkan Ribuan Akun Palsu, Ada yang dari RI

Pada bulan Desember 2020 lalu, lebih dari 2.000 akun palsu dihapus dari platform Facebook. Kebanyakan akun palsu yang ‘tersingkir’ dari platform media sosial terbesar tersebut berkaitan dengan pesta demokrasi, yang di antaranya berwujud portal berita.

Baca Juga: Startup Edutech Indonesia Ini Mudahkan Belajar dari Rumah

Facebook melaksanakan penghapusan tersebut dalam rangka operasi penertiban siber, sebagaimana dilansir dari dari CNet, Kamis (14/1). Platform ciptaan Mark Zuckerberg ini menghapus sebanyak 1.957 akun Facebook, 156 halaman publik, 727 grup, dan 707 akun Instagram. Alasan akun-akun tersebut dihapus karena dianggap menyamarkan identitas dan tujuannya di Facebook.

Sebanyak 14 jaringan akun palsu di berbagai negara telah diungkap oleh jejaring media sosial yang identik dengan warna biru ini. Negara-negara yang menjadi asal akun-akun palsu tersebut di antaranya ialah Argentina, Brazil, Pakistan, Maroko, Ukraina, Kyrgyzstan, tak ketinggalan Indonesia. Pada awal Desember 2020, sejumlah akun palsu yang berasal dari Perancis dan Rusia juga ikut tersingkir. 

Di antara 14 negara tersebut, Argentina tampil sebagai negara dengan pemilik jumlah jaringan akun palsu terbanyak, dengan rincian 663 akun Facebook dan 388 akun Instagram yang telah dimusnahkan Facebook.

Pihak Facebook mengatakan jika akun-akun palsu tersebut memiliki kepentingan terkait kontestasi politik di wilayah operasionalnya masing-masing. Warga lokal menjadi target dalam penyebaran informasi yang seringkali tidak benar. 

“Kampanye lokal menimbulkan tantangan yang kompleks berupa pengaburan batas antara debat yang sehat dan manipulasi,” tulis Facebook dalam laporannya, sebagaimana dikutip dari CNet.

Baca Juga: Marketplace Ilegal Terbesar di Dark Web Berhasil Ditutup

Facebook berupaya menunjukkan keseriusannya dalam mengantisipasi penyebaran informasi palsu dan hasutan, yang salah satunya dilakukan melalui penertiban akun palsu. Hal ini didukung pula dengan kondisi Facebook yang menjadi sorotan karena dianggap menjadi salah satu platform tempat penyebaran hasutan yang memicu kerusuhan berdarah di Gedung Capitol, Amerika Serikat.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *