Telepon Musk-Jokowi Juga Menyoal Energy Storage System di RI

  Beberapa waktu yang lalu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan diketahui melakukan pembicaraan melalui telepon dengan CEO Tesla, Elon Musk. 

Baca Juga: Miliarder Game Cina Meninggal Dunia Akibat “Keracunan”

Pembicaraan eksklusif itu hingga kini masih menyisakan cerita. Topik dalam pembicaraan jarak jauh tersebut tidak hanya mengenai industri mobil listrik, komponen utama baterai listrik, serta wacana  pembuatan launching pad Space X di Indonesia, tetapi juga meliputi topik energy storage system.

Hal ini diungkapkan oleh Marves Septian Hario Seto, selaku Deputi Bidang Koordinasi Investasi Pertambangan Kemenko, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (28/12). 

Seto mengemukakan jika saat ini sektor energy storage system atau sistem penyimpanan energi belum banyak dieksplor. Hilirisasi di sektor pertambangan, khususnya pada komoditas nikel, masih terlalu fokus pada baterai lithium yang banyak digunakan kendaraan listrik.

Padahal, menurutnya energy storage system ini menjadi kunci dalam renewable energy atau energi terbarukan. Contohnya, pada pemanfaatan energi matahari (solar energy), di mana energi matahari hanya bisa didapat dan dinikmati di siang hari.

“Kalau misalnya kita lihat di solar yang menggunakan tenaga matahari itu kan kalau matahari hilang nggak bisa dipakai. Tapi dengan adanya teknologi baterai ini kelebihan produksi di siang hari bisa disimpan,” jelasnya.

Seto menambahkan, energi matahari yang tersimpan selama siang hari tersebut bisa dipakai di malam hari, sehingga energy storage system dipandang sebagai sesuatu yang penting.

“Ini adalah komplemen dari renewable energy yang akan dikembangkan,” ujar Seto.

Seto menambahkan, energy storage system ini merupakan hal yang baru karena selama ini pengembangan masih berfokus pada kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

“Sebenarnya baru kita melihatnya, ini masih cukup baru ya, karena fokusnya selama ini pada EV. Tapi energy storage system kemarin dalam pembicaraan antara Bapak Presiden, Bapak Luhut, dan Elon Musk juga sempat dibahas mengenai energy storage system,” paparnya.

Seto berpendapat, hal tersebut akan menimbulkan tren berupa peningkatan pada permintaan baterai lithium di dunia, tidak hanya dari EV.

Ia menegaskan bahwa investasi di sektor pertambangan nikel baik asing maupun dalam negeri akan didorong ke jalur hilirisasi, seperti produksi baterai lithium dan besi baja.

Baca Juga: Matahari Buatan Korsel Tembus Suhu 100 Juta Derajat

Lebih lanjut, hilirisasi di sektor besi baja turut memberikan kontribusi yang signifikan pada pengurangan defisit transaksi berjalan. Saat pemerintah mulai melakukan hilirisasi di sektor tersebut, ekspor besi baja mengalami peningkatan nilai sekitar 8 kali lipat dari tahun 2014, yakni mencapai sekitar US$ 9,6 miliar, dari data yang didapat hingga November 2020.

(rf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *