Ilmuwan Mendeteksi Sinyal Misterius dari Bintang Terdekat

 Para astronom di balik pencarian paling ekstensif untuk kehidupan alien sedang menyelidiki emisi gelombang radio menarik yang tampaknya datang dari arah Proxima Centauri, bintang terdekat dengan matahari.

Pancaran gelombang radio tersebut diambil selama 30 jam pengamatan oleh teleskop Parkes di Australia pada bulan April dan Mei tahun lalu. Analisis gelombang radio itu telah dilakukan selama beberapa waktu dan para ilmuwan belum dapat mengidentifikasi hal tersebut.

Biasanya para astronom dalam proyek “Breakthrough Listen” menemukan gelombang radio yang aneh dengan teleskop Parkes atau Green Bank Observatory di West Virginia dan dapat teridentifikasi. Biasanya sumbernya berkaitan dengan gangguan perangkat buatan manusia atau alam.

“Sinyal” terbaru kemungkinan juga memiliki penjelasan yang biasa-biasa saja, tetapi arah sorotan yang sempit, sekitar 980MHz, dan pergeseran frekuensinya konsisten dengan pergerakan planet, membuat temuan ini sangat menggiurkan bagi para ilmuwan.

Para ilmuwan sekarang sedang mempersiapkan makalah tentang gelombang radio tersebut, yang dinamai BLC1.

Gelombang radio yang tampaknya datang dari arah Proxima Centauri, merupakan bintang katai merah berjarak 4,2 tahun cahaya dari Bumi. “Ini adalah kandidat serius pertama sejak ‘Wow! Signal’,” kata mereka.

“Wow! Signal” adalah sinyal radio pita sempit berumur pendek yang diambil selama pencarian intelijen luar angkasa, atau Seti, oleh Big Ear Radio Observatory di Ohio pada tahun 1977.

Baca juga : Virus Corona Jenis Baru Ditemukan, Perlukah Panik?

Diluncurkan pada tahun 2015 oleh Yuri Milner, seorang investor sains dan teknologi yang berbasis di Silicon Valley, proyek Breakthrough Listen ‘menguping’ jutaan bintang yang paling dekat dengan Bumi dengan harapan dapat mendeteksi siaran alien.

Meski terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang, Proxima Centauri telah mendapat pengawasan ketat dari para astronom. Terutama dua planet yang diketahui mengorbit bintang katai merah tersebut.

Salah satunya adalah raksasa gas dan satunya lagi diyakini sebagai dunia berbatu sekitar 17% lebih besar dari Bumi. Dikenal sebagai Proxima b, planet ini mengitari bintangnya setiap 11 hari dan terletak di “zona layak huni”, di mana suhunya tepat untuk air mengalir dan menggenang.

Tapi itu bukan berarti ada air di Proxima b. Meskipun lokasinya tampak nyaman, planet ini mungkin saja tidak ramah terhadap kehidupan. Pada tahun 2017, para ilmuwan NASA menggunakan model komputer untuk menunjukkan jika Proxima b memiliki atmosfer seperti Bumi.

Tetapi atmosfer tersebut dapat dengan mudah dihilangkan oleh radiasi intens dan suar matahari yang dilepaskan oleh bintang induknya. Di bawah hantaman ini, planet berusia 4 miliar tahun itu bisa saja kehilangan seluruh atmosfernya dalam 100 juta tahun.

Pete Worden, mantan direktur Nasa’s Ames Research Center di California dan direktur eksekutif dari Breakthrough Initiatives, mengatakan bahwa penting untuk menunggu dan melihat kesimpulan dari para ilmuwan proyek tersebut.

“Tim Breakthrough Listen telah mendeteksi beberapa sinyal yang tidak biasa dan sedang menyelidikinya dengan cermat. Sinyal-sinyal ini kemungkinan merupakan gangguan yang belum dapat kami jelaskan sepenuhnya. Analisis lebih lanjut sedang dilakukan.”

Baca juga : Cara Mengosongkan Storage WhatsApp, Anti ‘Nyampah’

(mm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *